Header Ads

Anjing Masuk Masjid, dan Kerukunan yang Terus Diganggu


Seseorang mengirim link berita anjing masuk masjid di salah satu group WA saya kemarin sore saat perjalanan pulang ke rumah. Saya tidak begitu menghiraukan. Tapi kemudian berita itu viral di social media. Karena penasaran,  saya coba buka kembali group WA itu dan saya baca seksama.  Saya juga sempatkan untuk menonton video amatir yang direkam oleh salah satu jemaat masjid. 

Dalam video itu terlihat SM (52 th) sedang terlihat menenteng seekor anjing di masjid Jami Al Munawaroh, Sentul City. SM dan salah seorang pengurus masjid terlihat adu mulut. Emosi mereka membuncah. Bahkan beberapa kali pukulan dan tendangan saling dihujamkan. Beberapa diantara jemaat terlihat mencoba melerai kedua belah pihak. 

Selepas menonton video itu, saya menghela napas cukup dalam. Kemudian membatin.  

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan kita saat ini? Saya sudah lebih dari 10 tahun terjun di interfaith dialog dan toleransi. Rasanya sia-sia belaka.” 

“Mumet dah, bodo amat. Ngapain dipikirin. Ngopi dulu ah”  

Saya merasa pikiran saya terbelah menjadi dua, dan mereka saling bercakap bersahutan. 

Malam itu saya pilih seduh kopi tubruk Flores. Kopi Flores ini dikasih oleh kawan saya Ekki, seorang mahasiswa Katolik. Pernah tinggal di seminari Xaverian dan belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Saya mengenalnya cukup lama. Pandai bermain gitar, namun suaranya tak seindah petikan gitarnya. 

Saya sruput perlahan kopi Flores ini. Aromanya wangi sekali. Kopi Flores cita rasanya khas sekali, unik. Salah satu keragaman yang patut disyukuri. Ahhhh… 

“Kopi saja beragam jenis dan cita rasa, kenapa kita tidak bisa hidup beragam?” pikiran saya mulai liar. Efek minum kopi nih nampaknya. 


3 Pelajaran Penting

Dalam setiap kejadian dan momen selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Dalam kasus anjing masuk masjid di atas, paling tidak ada 3 pelajaran penting yang patut kita renungkan bersama. 

Pertama,mengendalikan emosi. Dalam video terlihat, ada beberapa orang yang spontan melerai pertengkaran antara SM dan pengurus masjid yang semakin membuncah emosinya. Mereka tampak tenang, dan mencoba untuk menenangkan kedua belah pihak. Tapi apa daya, kata-kata semakin kasar dan tinggi intonasinya. Namun, orang-orang ini tetap mencoba untuk terus melerai dengan tulus. Mereka tidak ikut terbawa emosi. 

Orang-orang seperti ini, menurut Profesor Daniel Goleman adalah orang-orang yang mampu menempatkan emosinya pada pada porsi yang tepat. Dalam skala lebih luas, kita membutuhkan orang-orang yang Emotional Intelligence tinggi seperti ini. Orang-orang seperti ini biasanya akan berpikir dua kali sebelum beraksi. 

Kedua,pentingnya berpikir kritis. Beberapa komentar netizen saya baca terutama di youtube dan twitter. Kecenderungan mereka berkomentar penuh emosi. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Mereka saling serang dengan menggunakan dalil, logika dan argumentasi masing-masing. Perdebatan panas terjadi di dunia digital. Saya menduga mereka bereaksi secara seketika dan di luar ukuran kewajaran. Merujuk pada Profesor Daniel Goleman kembali, proses seperti ini menurutnya adalah pembajakan amigdala. Amigdala merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Dalam kondisi ini, orang cenderung spontan tanpa berpikir dua kali. Oleh sebab itu, perlu keahlian berpikir kritis, selalu mempertanyakan informasi, berpikir dua kali untuk berkomentar dan sharing informasi. 

Ketiga,pentingnya memberi maaf. Kabar terbaru menyatakan bahwa kasus ini akan dibawa ke ranah hokum. SM akan terancam pasal penodaan agama. Lagi-lagi kita seperti kehilangan rasa kemanusiaan. Mungkinkah kita sudah lupa bagaimana cara memafkan? Kita perlu belajar dari pak Nur Kalim (30). Guru SMP PGRI Wringinanom Gresik yang memilih tulus memaafkan muridnya. Dalam sebuah video berdurasi 54 detik, Nur Kalim dihina, ditantang, bahkan dicekik oleh muridnya sendiri. Jutaan netizen geram dan marah.

"Saya sudah memaafkan sikap siswa saya. Meski begitu siswa saya adalah anak didik saya sendiri. Ia juga saya anggap anak saya sendiri. Apalagi yang bersangkutan akan mengikuti ujian nasional," kata Nur Kalim penuh welas asih.

Oleh: Muhammad Mukhlisin 
Kepala Sekolah Guru Kebinekaan 

*Tulisan ini pertama kali diterbitkan oleh selisip.com

No comments

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini, semoga bermanfaat. Silakan isi komentar berikut jika ingin menanyakan sesuatu...

Created by Lisonk. All Right Reserved. Powered by Blogger.