Jasa buat website



Menikmati kopi bisa dilakukan sambil membahas apa saja, termasuk persoalan pendidikan. Itulah yang dilaksanakan Yayasan Cahaya Guru (YCG), lembaga yang telah mendampingi sekitar 15.000 guru di seluruh Indonesia. 
Pada 17 November 2018 lalu, YCG meluncurkan sebuah program, unik, namanya Ngopi alias Ngobrol Pendidikan. Program ini ditujukan untuk menjadi ruang para guru dan pemerhati pendidikan di Indonesia untuk bertukar gagasan, membincang problem pendidikan, dan mencari jalan keluarnya. 
Sambil meminum segelas kopi, Muhammad Mukhlisin, Manajer Program Yayasan Cahaya Guru menuturkan guru dan pemerhati pendidikan di Indonesia perlu diberi ruang seluas-luasnya untuk bertemu dan berbagi pengalaman. Dengan luasnya ruang perjumpaan itu, nanti akan meluaskan paradigma dan wawasan kita sebagai bangsa. Jadi, ide-ide baru dalam pendidikan perlu terus dikembangkan.
"Persoalan pendidikan di Indonesia seakan tidak ada habisnya. Persoalan satu selesai, muncul persoalan berikutnya. Namun seringkali kita lupa untuk mengambil momen reflektif dalam setiap persoalan tersebut. Oleh sebab itu, ruang obrolan santai Ngopi ini diadakan. Sambil meneguk hangatnya kopi, kita hangatkan ide-ide pembaruan pendidikan" ungkap pria yang akrab disapa Lisin ini. 
Ngopi Edisi 1
 Ngopi; Ngobrol Pendidikan, Sabtu (17/11/2018) 
di Perpustakaan Kemendikbud,  Jakarta Pusat. 
Beberapa guru merasa heran, kenapa intoleransi guru begitu tinggi. Sebanyak 57% guru memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain. Sedangkan 37,77% keinginan untuk melakukan perbuatan intoleran atau intensi-aksi.
Wahyu Purnomo Aji, Guru SMA Fransiskus Jakarta menuturkan turut prihatin melihat kondisi guru seperti hasil riset PPIM UIN Jakarta tersebut. Tapi, menurutnya memang demikian faktanya kondisi pendidikan saat ini. Oleh sebab itu, dia mengajak rekan-rekan guru lainnya untuk kembali kepada tugas luhur mendidik dan mengajar di bawah naungan Pancasila dan NKRI. 
Sambil berdiskusi, para guru dapat menikmati kopi Nusantara
"Kita perlu refleksi bersama terkait kondisi guru yang seperti ini. Jika ada yang salah, perlu kita intropreksi bersama" tegasnya. 
Meskipun begitu, masih ada harapan. Masih banyak guru yang mengajar dengan hati nurani, mengedepankan berpikir kritis, kemanusiaan dan kebangsaan. Guru-guru yang baik inilah yang perlu terus diangkat dan dikuatkan. 
"Dari penelitian ini, guru sebagai pelita telah meredup. Namun, di luar sana masih banyak pelita-pelita yang masih terang menyinari kegelapan. Semoga kita termasuk bagian dari pelita yang menerangi kegelapan. Sampai bertemu di Ngopi selanjutnya" pungkas Muhammad Mukhlisin, Kepala Sekolah Guru Kebinekaan sekaligus inisiator kegiatan Ngopi. 







Persoalan toleransi guru menjadi pembahasan menarik dalam Ngopi edisi perdana kali ini. Sebanyak 30-an guru hadir dan terlihat aktif berbagi ide dan gagasan. Peneliti PPIM UIN Jakarta, Yunita Faela Nisa, menjadi pemantik diskusi bersama guru-guru. Dia menjelaskan data-data temuan terkait tingkat intoleransi guru di Indonesia. 




Hal senada diungkapkan oleh Uswatun Khasanah, guru SDN Rawajati 06 Jakarta Timur. Sesaat setelah mendapatkan hasil penelitian ini dia sempat share ke beberapa rekan guru. Namun, sebagian besar guru merasa tidak percaya dengan hasil penelitian ini. 



Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar Blogger 0 Facebook

Post a Comment

Terimakasih sudah mengunjungi blog ini, semoga bermanfaat. Silakan isi komentar berikut jika ingin menanyakan sesuatu...

 
Muhammad Mukhlisin © 2013.Hak Cipta Dilindungi UU. Supported by Circle Star Jasa Sosial Media
Top